Simbol Tiga Dunia dalam Alat Musik Dayak Kanayatn
http://mbahdinan.blogspot.co.id/2014/08/simbol-tiga-dunia-dalam-alat-musik.html
Simbol tiga dunia meterial dalam
musik Dayak Kanayatn dapat dilihat dari bentuk instrumen yang digunakan seperti
Dau, Agukng, Gadobokng, dan
Solekng.
Kesemuanya itu memiliki kesamaan dalam satu bentuk global, yaitu
lingkaran dan lubang. Lingkaran tersebut merupakan lambang tiga dunia
dalam kepercayaan lama atau agama nenek moyang. Ia merupakan
representasi religius dari tiga tahap kehidupan, yaitu lahir, menjalani
hidup, dan mati. Sama halnya dengan kebulatan hubungan antara ritme,
melodi, dan harmoni.
Lingkaran pertama yang terdapat pada instrumen
Dau terletak pada Bujal sebagai lambang Dunia Atas. Penggambaran Dunia Atas ini sesuai dengan posisi
bujal yang
menempati posisi paling atas atau tempat menabuh intrumen tersebut.
Lingkaran kedua terletak pada bagian tengah (dibawah bujal) yang
melambangkan eksistensi Dunia Tengah atau dunia manusia. Lingkaran
terakhir terdapat dibagian bawah instrumen sebagai lambang Dunia Bawah.
Keselarasan antara usaha dan tingkah laku religius merupakan dua hal
penting dalam kehidupan masyarakat Dayak Kanayatn. Ia merupakan sebuah
tatanan kehidupan yang harus dijalankan oleh masyarakatnya. Artinya
setiap tingkah laku orang Dayak Kanayatn harus disertai dengan keluhuran
budi sebagai cermin ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seperti kata
pepatah
Bacuramin Ka’ Saruga yang artinya Bercermin kepada Surga.
Eksistensi
tiga dunia yang digambarkan instrumen
Agukng terletak
pada jumlah instrumen. Kebanyakan instrumen yang digunakan dalam
penyajian musik Dayak Kanayatn berjumlah tiga buah. Jumlah ini sesuai
dengan konsep tiga dunia dalam kepercayaan masyarakat Dayak Kanayatn.
Sebut saja tiga instrumen itu adalah
Agukng, Kanayatn atau
Katuku, dan
Katukeng.
Agukng sebagai instrumen yang karakter suaranya agung dilambangkan dengan Dunia Atas.
Kanayatn menempati posisi paling tengah dianggap sebagai lambang Dunia Tengah, sedangkan
Katukeng memiliki suara dan bentuk yang paling kecil diantara ketiganya dilambangkan sebagai Dunia Bawah.
Agukng memiliki karakter suara paling agung. Ia berfungsi memberi
ketukan dasar atau penentu ketukan berat. Ketukan berat ini menjadi
patokan jatuhnya nada dalam satu ruang birama. Ia memberi sekat terhadap
permainan instrumen lain, sehingga dapat diketahui posisi jatuh nada
pertama sebagai ketukan berat (nada dong). Begitu pula dalam kehidupan,
Instrumen ini dapat disamakan dengan ajaran agama yang harus diikuti,
diturut, dan dihayati sebagai pedoman hidup yang dijalani. Ajaran agama
itu mengajarkan kepada manusia untuk berbakti kepada Tuhan, sebagai
sesuatu yang mengatur dan menguasai kehidupan di jagad raya, dan sebagai
tujuan terakhir dari perjalanan religius masyarakat Dayak Kanayatn.
Dari sinilah hadir Dunia Atas pada kehidupan nyata sebagai penunjang
keberadaan manusia dalam menjalani kehidupannya.
Katuku merupakan representasi kehidupan manusia di dunia. Ia
bukan hanya memiliki arti kehidupan secara harafiah, yaitu kerja,
istirahat, dan makan, namun ia merupakan lambang dari tingkah laku yang
menyertakan pemikiran dan perasaan untuk mencerna segala yang dilihat
dan dirasakan. Manusia berpikir dan menangkap fenomena-fenomena alam
yang memerlukan sebuah penghayatan dan usaha yang pada akhirnya harus ia
pertanggungjawabkan kepada Jubata dan manusia lainnya.
Katukeng merupakan lambang Dunia Bawah sebagai refleksi kehidupan
makhluk halus. Keberadaan alam ini tidak bisa terlepas dengan kehidupan
manusia, karena pada dasarnya antara manusia dengan makhluk halus
merupakan satu asal atau keturunan yang sama. Hal ini berhubungan dengan
cerita
Ne’ Baruakng Kulub sebagai nenek moyang orang Dayak
Kanayatn dan cerita turunnya padi ke dunia (Wawancara langsung dengan
Maniamas Miden Sood, Seniman dan Dukun Dendo, 21 April 2006, Dsn. Asong
Pala, Ds. Aur Sampuk, Kec. Sengah Temila, Kab. Landak, Kalimantan Barat.
Diijinkan untuk dikutip). Dalam cerita itu terdapat sebuah dunia
transenden yang keberadaannya digunakan untuk mengingatkan kembali
tentang asal mula, kejadian suci (ritual Baliatn), dan adat masyarakat
Dayak Bukit (Dayak Kanayatn). Bukti hubungan tersebut dapat dilihat
dalam upacara ritual perdukunan masyarakat Dayak Kanayatn, dimana dukun
dalam upacara tersebut mendatangkan makhluk halus dari Dunia Bawah untuk
membantunya melakukan pengobatan. Refleksi hubungan inilah yang
diungkapkan kembali melalui instrumen
Katukeng.
Simbol adat dapat dilihat pada instrumen
Gadobokng. Simbol ini
dinyatakan dengan posisi Gadobokng sebagai pemangku irama atau pemberi
ketukan. Setiap permainan harus berpatokan pada ritme permainan
Gadobokng agar tercipta keharmonisan jalinan nada-nada yang dihasilkan
oleh permainan masing-masing instrumen. Begitu pula dengan kehidupan, ia
harus berpatokan pada adat agar tercipta keselarasan hidup dalam
bermasyarakat.
Lingkaran atas
Gadobokng atau lingkaran pada membran sebagai
simbol Dunia Atas merupakan representasi adat. Ia mengeluarkan bunyi
sebagai simbol peraturan yang harus diturut. Lingkaran tengah
(resonansi) sebagai simbol Dunia Tengah merupakan transformasi kehidupan
manusia yang harus selaras dengan adat, sebagaimana keselarasan antara
bunyi membran yang dipukul terhadap bunyi yang dikandung oleh resonansi,
seperti kata pepatah hidup dikandung adat, mati dikandung tanah.
Lingkar bawah (lingkar dasar) sebagai simbol Dunia Bawah adalah norma
pergaulan sebagai dasar kehidupan bermasyarakat. Dari sinilah timbul
sikap saling menghormati, gotong royong, dan ikatan persaudaraan yang
diatur dalam hukum. Keberadaannya difungsikan sebagai penunjang hubungan
sosial, sehingga kehidupan bermasyarakat menjadi tenteram dan damai.
Dinamika kehidupan masyarakat Dayak Kanayatn tercermin dalam
Solekng yang menggambarkan alur kehidupan masyarakat Dayak Kanayatn yang bersahaja dan mau menerima apa adanya. Bunyi
Solekng yang
mengalun indah merupakan representasi keselarasan hidup masyarakat yang
berpangkal dari rasa adil dan saling menghargai. Rasa adil dan saling
menghargai ini terbawa sampai orang Dayak Kanayatn hidup di luar
lingkungan mereka atau hidup dengan orang lain. Mereka selalu bersyukur
atas apa yang mereka dapat dan selalu menghormati segala bentuk
pemberian. Seperti kata pepatah
Adil Ka’ Talino yang artinya adil kepada manusia.
Alunan nada-nada
Solekng merupakan penggambaran kehidupan yang
selaras dengan ajaran Tuhan. Keselarasan hidup dengan nilai-nilai religi
ini diaplikasikan dalam setiap napas kehidupan, baik sosial maupun
ekonomi. Seperti kata pepatah
Basengat Ka’ Jubata yang artinya Bernapas Kepada Jubata (Tuhan).
Setelah mengkaji instrumen dari segi filosifis, diketahui bahwa seluruh
instrumen tersebut merupakan realitas tiga dunia, dimana realitas Dunia
Atas dilambangkan dengan instrumen
Agukng, realitas Dunia Tengah dilambangkan dengan
Dau, dan realitas Dunia Bawah dilambangkan dengan
Gadobokng.
Dunia atas adalah tatanan nilai religius atau sendi ke-Tuhan-an yang
mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Pedoman ini dinyatakan dalam
hukum adat untuk mengatur hubungan manusia dengan manusia dan menjadi
pondasi tingkah laku dalam kehidupan sosial, yang dilambangkan sebagai
Dunia Bawah. Realitas Dunia Tengah merupakan merupakan kehidupan manusia
itu sendiri yang harus selaras dengan alam dan lingkungannya dengan
berpatokan pada sendi agama dan adat. Pada dunia inilah eksistensi
kesatuan itu diwujudkan. Penggambaran keseluruhan hidup itu dapat dikaji
dengan melihat jumlah keseluruhan lubang yang terdapat pada keempat
instrumen di atas. Gabungan dari 8 lubang instrumen Dau, 7 lubang
Solekng, 3 lubang Agukng, dan 1 lubang Gadobokng semuanya berjumlah 19
lubang, ditambah satu lubang mulut untuk vokal. Kemudian 20 lubang itu
dilengkapi dengan 1 bunyi sebagai hasil dari kesatuan tingkah laku
musikal dari keempat instrumen tersebut. Jumlah 21 ini sama dengan
jumlah suku kata yang terdapat pada pepatah (prinsip hidup) orang Dayak
Kanayatn, yaitu Adil Ka’ Talino, Basengat Ka’ Jubata, Bacuramin Ka’
Saruga.

Bunyi merupakan hasil dari tingkah laku musikal manusia, seperti menabuh
atau memainkan alat musik dan menyanyi. Tanpa ada tingkah laku manusia,
instrumen belum berarti apa-apa atau belum menghasilkan musik. Gabungan
dari tingkah laku musikal dan instrumen inilah yang menghasilkan musik,
sehingga musik bukan hanya berarti hubungan nada-nada yang teratur dan
membentuk suatu pola tertentu, melainkan sebagai presentasi adat dan
religi masyarakatnya. Oleh karena itu bunyi yang dihasilkan sesuai
dengan budaya yang melingkupinya. Hubungan antara instrumen, tingkah
laku musikal, dan bunyi (musik) merupakan representasi filosifis konsep
tiga dunia yang dirangkum dan dinyatakan dalam irama musik Dayak
Kanayatn