Rabu, 11 April 2018

IPDKR Bukan Sekedar Organisasi


Ikatan Pemuda Dayak Kubu Raya 
Bukan Sekedar Organisasi

Oleh : Samuel

Belakangan ini, kehormatan  orang muda bisa saja tercoreng dengan ‘gila’nya media sosial. Kenapa tidak? Cobalah perhatikan, di Kubu Raya tidak sedikit orang muda yang memiliki darah asli Dayak, tapi ‘kebingungan’ dengan wadah mana yang cocok buat mereka?

Ada yang takut, habis ‘waktu-lah’, tak dapat uang-lah dan banyak sekali ‘silatan lidah’ yang ujung-ujungnya; ya, tetap saja tidak peduli dengan lingkungan bahkan sesama. Miris ya?

Yuk, jawab sebentar ya?

Kawan-kawan, ini yang ku rasakan semenjak masuk dalam wadah IPDKR. Coba perhatikan pola pikir mereka? Coba lihat relasi mereka? Coba lihat visi dan misi mereka? Cobalah, sekali saja dengar perjuangan mereka mendirikan IPDKR?  Atas dasar apalah?

Habiskan waktu buat urusan IPDKR, habiskan waktu buat rapat saja, habiskan waktu pula buat ikut melestarikan budaya dan mungkin masih banyak lagi yang tak terungkapkan disini.
Ya, hanya kalianlah yang tahu.

Hahaha, mungkin bodohlah mereka yang mau berjuang keras mendirikan organisasi ini jika pada akhirnya ‘nol’ hasilnya. Betul?

Eits, tapi jangan salah. Coba lihat lagi, relasi IPDKR sudah dikenal Kalbar loh. Buktinya, saya sendiri yang sering ‘tenteng’ baju IPDKR dengan percaya diri pergi ke Bengkayang, Ngabang, Sambas, Sintang, Sanggau dan masih banyak tempat-tempat yang tak tersebutkan.

Apalah kata mereka?

Kamu IPDKR ya,? Rata-rata begitu yang bertanya kepada ku.

Tentu saya jawab dengan bangga dong, “Ya” jawab ku.

Terus katanya, wah saya juga pemuda (Sanggau, Kapuas Hulu, Sintang, dll) , tanpa direkayasa kami sangat akrab, ditengah perbincangan  yang seru kala itu.

Nah, terbukti bukan bahwa IPDKR bukanlah hanya sekedar organisasi biasa. IPDKR sudah memiliki badan hukum yang jelas dan terstruktur. IPDKR bukan hanya dikenal pada wilayah Kubu Raya saja, tetapi IPDKR nyaris dikenal oleh Kalimantan Barat.  

Pertanyaannya? Jika Anda dari orang muda Kubu Raya sendiri, seandainya ditanya apakah masuk organisasi pemuda Dayak, apa kira-kira jawaban mu yang bisa membanggkan Darah nenek moyang mu ?

Hehehe,,,,  

Ciaaa, yuk ikutan IPDKR wadahnya sangat positif, disana ada wadah mengembangkan talenta, sharing bahkan ada juga wadah rohani, pokoknya lengkap deh.

Untuk pertanyaan atau mau ambil Formulir Pendaftaran kami dapat di Hubungi di WA IPDKR 085828618181, Surel : ikatanpemudadayak.kuburaya@gmail.com dan pastinya bisa melalui anggota IPDKR yg rekan2 kenal.

SALAM BABABA ( Salam Khas IPDKR)

Rangkaian Foto : Sosialisasi IPDKR BElum lama ini















MAKNA DIBALIK LOGO IPDKR



# Warna Hitam melambangkan IPDKR adalah organisasi yg kuat dan besar serta mampu membaur dengan siapa saja tanpa kehilangan integritas dan identitas diri sebagai Pemuda Dayak.

# Warna Merah melambangkan keberanian dan keyakinan organisasi untuk bermitra dengan Masyarakat serta Pemerintah Daerah Kab. Kubu Raya.

# Warna Putih melambangkan sifat organisasi yang mengutamakan kejujuran dan kebersihan hati dalam setiap kegiatannya.

# Warna Kuning melambangkan sifat organisasi yg agung, anti intervensi, independen dan menjauhi hal-hal yg negatif serta terlarang.

# Guliga Enek ( lingkaran kecil ) melambangkan persatuan dan kekompakan seluruh unsur pengurus IPDKR.

# Guliga Aya' ( lingkaran besar ) melambangkan persatuan dan kekompakan seluruh anggota IPDKR.

# Tapayatn ( tempayan ) melambangkan IPDKR sebagai tempat/wadah berkumpulnya pemuda/i dayak di Kab. Kubu Raya.

# Rinyuakng ( Daun Juang ) melambangkan organisasi IPDKR mampu membuat anggotanya tumbuh dan berkembang sesuai dengan adat istiadat Dayak yg utuh.

# Tangkitn melambangkan totalitas organisasi IPDKR dalam menjaga serta melestarikan Tradisi, Budaya dan Adat Istiadat Dayak.

# Motif Bangkahilatn melambangkan semangat pantang menyerah, siap berada disegala medan dan pantang mundur disegala situasi.

# Calek Kapur ( siluet putih ) di daun juang berjumlah 21 dan 11 melambangkan tanggal berdirinya IPDKR, yakni tanggal 21 November 2014.

Sumber :
1. AD/ART IPDKR
2. BUKU PORTOFOLIO IPDKR

Minggu, 01 April 2018

IPDKR Kampanyekan Gerakan Menanam Pohon

Tunas Hijau siap di tanam Oleh Dewan Pengawas dan DPP IPDKR

KUBU RAYA - Bulan Maret adalah bulan yang menaruh perhatian secara khusus kepada Hutan (20 Maret) dan Air (22 maret) di dunia. Negara-negara maju menyadari perlunya keterlibatan masyarakat dunia secara nyata dalam menjaga keberlangsungan ekosistem, termasuk Negara kita, INDONESIA.

Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, total luas hutan saat ini mencapai 124 juta hektar. Tapi sejak 2010 sampai 2015, Indonesia menempati urutan kedua tertinggi kehilangan luas hutannya yang mencapai 684.000 hektar tiap tahunnya," (Deputi FAO Representative bidang program di Indonesia, Ageng Herianto, Selasa (30/8/2016).

Sementara di kalbar luas hutannya tahun 2013 8,2 juta Ha dan luas lahan gambut 1,6 juta Ha. dan pada tahun 2012 sebanyak 72.386 Ha lahan kritis di rehabilitasi sedangkan pada tahun 2016 luas hutang yang direhabilitasi 2.407. (Laporan Pembangunan Kehutanan Tahun 2008-2016)
 Dara IPDKR turut terlibat

Selain itu Indonesia juga masuk daftar negara dengan penduduk terbanyak yang tidak bisa mengakses air bersih versi Wateraid (2016). Negara kita berada di peringkat ke-6 dari 10 negara. Ada sekitar 32 juta orang di Indonesia hidup tanpa air bersih.Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sampai tahun 2015, baru 70.97% rumah tangga yang memiliki sumber air minum layak.

Di Kalimantan Barat peran PDAM sangat vital namun saat ini belum maksimal dalam pelayanannya terutama di daerah-daerah. Saat ini yang kebiasaan warga menggunakan air hujan yg ditampung.

menyikapi hal tersebut Ikatan Pemuda Dayak Kubu Raya melalui Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup menginisiasi sebuah gerakan yakni aksi menanam Pohon. Kegiatan yang bertajuk "Harmonisasi dan Rekonsiliasi Ekologis" ini lebih kepada mengkampanyekan atau membumikan kegiatan sederhana namun sangat bermanfaat bagi kelestarian hutan dan air.

"Keharmonisan antara makhluk (termasuk tanaman) beberapa dekade terakhir sudah menunjukkan tanda-tanda yang tidak sehat bahkan cenderung semakin rusak. Contoh akibat kekuasaan manusia, ciptaan lain dihabiskan bahkan dibumihanguskan. Akibatnya ciptaan lain menunjukkan perlawanan dengan situasi alam yg tidak mau bersahabat, binatang tidak lagi muncul seperti dahulu, dan bisa jadi juga sudah mengalami kepunahan." Kata Clarensius Capricho, S.Pd salah satu dari DPP IPDKR yang hadir.

Semangat GO GREEEN....SALAM BABABA

"Menyikapi fenomena ini, kita perlu mengadakan rekonsiliasi yaitu membangun kembali keharmonisan itu, ingin melakukan perdamaian dengan makhluk ciptaan lainnya. Dengan cara menanam kembali. Harapannya adalah keharmonisan atau keseimbangan itu kembali lagi. Selain itu, tentulah harapan paling utama dan hakiki adalah memelihara keakraban dengan Tuhan dan leluhur kita dan yang paling penting kegiatan ini tidak hanya seremonial saja tetapi juga diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hal-hal sederhana hingga hal-hal yang kompleks." Jelas Antonius Rani, Ketua Dewan Pengawas IPDKR yang turut serta dalam gerakan ini.

Sementara Bonifasius Tyo selaku koordinator kegiatan lebih menitikberatkan pada partisifasi generasi muda dalam kegiatan-kegiatan serupa, ia berharap kegiatan ini merupakan langkah awal yang selalu dikembangkan kedepannya.

Gerakan Menanam pohon ini dilaksanakan pada hari Sabtu 24 Maret 2018 di Desa Duriatn Kecamatan Sui. Ambawang adapun tempat yang dipilih adalah Situs Pantak Ne' Oto' dan Situs Timawakng Angus. NS












Senin, 12 Maret 2018

Baati Batu Batarenyekng Banir, Apa itu?


Dipagi hari yang cerah, ada segerombolan katak-katak kecil yang menggelar lomba lari, ada pun tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi

Penonton yang meremehkan kemampuan katak-katak kecil itu berkumpul bersama mengelilingi menara untuk menyaksikan perlombaan, perlombaan pun dimulai Secara jujur Tak satupun penonton benar-benar percaya dan yakin bahwa katak-katak kecil akan bisa mencapai puncak menara.

Maka Terdengar suara:
"Oh, jalannya terlalu sulitttt!! kalian katak kecil gak akan mungkin bisa mencapainya dan sebahagian lagi mengatakan Mereka TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak."
atau:
"Tidak ada kesempatan untuk berhasil...Menaranya terlalu tinggi...!!

Katak2 kecil mulai berjatuhan. Satu persatu, Kecuali mereka yang tetap semangat menaiki menara perlahan- lahan semakin tinggi dan semakin tinggi

Penonton terus bersorak
"Terlalu sulit!!! Tak seorangpun akan berhasil!"

Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah...
Tapi ada SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi...
Dia tak akan menyerah!

Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali satu katak kecil yang telah berusaha keras menjadi satu-satunya yang berhasil mencapai puncak!
SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya?

Seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan?

Ternyata
Katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!!



---------------------------------------------------------------
Cerita diatas hanya sebuah perumpamaan saja, namun memiliki nilai yang dalam tentang keyakinan diri.
Baati Batu secara harafiah dapat dimaknai sebagai kekokohan tekad, tidak gampang goyah. memiliki fokus yang tinggi sehingga apa yang menjadi tujuan betul-betul terwujud. sedangkan Batarenyekng Banir dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk mengabaikan suara-suara negatif yang akan menambah beban dalam langkah kita.

terkadang untuk menjaga konsentrasi, kita perlu menjadi TULI. Tuli terhadap cemoohan, ejekan dan kalimat negatif lainnya. Jangan sampai keyakinan kita goyah namun milikilah tekad batu, keras dan kokoh. 
Semangat itulah yang dijiwai oleh IPDKR dari kalimat BAATI BATU BATARENYEKNG BANIR ini.

SALAM BABABA

Selasa, 20 Februari 2018

Memasuki Tahun Politik, ini komentar Ketua Umum IPDKR

Teofelus Boni, Ketua Umum IPDKR

Kubu Raya - Tahun 2018 sebuah perhelatan besar akan berlangsung di Indonesia. Sebanyak 171 daerah akan mengikuti Pilkada secara serentak pada tanggal 27 Juni 2018 mendatang. Dari 171 daerah tersebut ada 17 Provinsi, 39 Kota dan 115 Kabupaten yang akan menyelenggarakan Pilkada, termasuk didalamnya Provinsi Kalimantan Barat dan Kabupaten Kubu Raya.

Saat ini tahapan demi tahapan telah dilaksanakan oleh KPU sebagai Penyenggara, mulai dari Penetapan calon, penetapan nomor urut, deklarasi kampanye damai dan penetapan jadwal kampanye. tentu masih banyak tahapan-tahapan lain yg akan dilaksanakan.

Pilkada adalah momentum untuk memilih pemimpin yang mampu dan sanggup untuk menyelenggarakan Pemerintahan yang adil, bersih dan berorintasi pada pembangunan disegala aspek untuk mewujudkan Kesejahteraan Umum.

Teofelus Boni, ketua Umum IPDKR dalam sebuah kesempatan mengajak seluruh anggotanya untuk berpartisifasi dalam proses pilkada ini terutama dalam menggunakan Hak Pilih,
"Generasi Muda jangan sampai golput, kita wajib berpartisifasi, saya harap teman-teman sudah mulai cek apakah namanya sudah masuk dalam DPT karena sebagian besar kita ini adalah pemilih pemula." Ujar Boni.

disaat yang sama Teofelus Boni juga berpesan agar menghindari praktik-praktik Politik Praktis apalagi membawa identitas OKP IPDKR, "Saya kira tidak ada alasan untuk tidak patuh pada AD/ART kita, Kita telah membangun komitmen dan telah disepakati bersama, simbol-simbol organisasi harus kita jaga, saat ini independensi kita di uji namun saya percaya kita semua bisa mematuhinya, Fungsi pengawasan kita tetap berjalan maka jika ada temuan akan diproses sesuai dengan pedoman organisasi, diluar dari pada itu silahkan pakai nama pribadi." jelas Boni.

semoga proses penyelenggaran pilkada di Kab. Kubu Raya dan Prov. kalimantan Barat dapat berjalan dengan aman dan lancar sehingga yang terpilih adalah Pemimpin yang terbaik. Oct.

Senin, 25 September 2017

IPDKR Laksanakan Expedition of Lamoanak


Selama 3 hari, 35 anggota IPDKR (Ikatan Pemuda Dayak Kubu Raya) melaksanakan Ekspedisi Penggalian Sejarah ke Desa Lamoanak, Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak. Kegiatan yang berlangsung mulai tanggal 15 - 17 September 2017 itu dibagi menjadi 2 tim, tim pertama adalah tim perintis yang berangkat tanggal 15 September 2017 sedangkan yang kedua adalah tim utama berangkat tanggal 16 September 2017.

Kegiatan yang bertajuk Mulakngi' Timawakng ini mendapat sambutan yang hangat dari warga Desa Lamoanak. Yoyakim, Kepada Desa Lamoanak mengungkapkan kegembiraannya karena generasi muda masih memiliki kepedulian yang tinggi serhadap sejarah leluhurnya. "Semoga kegiatan ini berkelanjutan dan catatan-catatan yang diperoleh dari ekspedisi ini dapat dipublikasikan terutama bagi kami yang ada di Desa Lamoanak ini." Kata Yoyakim, "Kampung kami ini sebenarnya memiliki potensi untuk wisata karena selain memiliki situs budaya juga ada beberapa tempat yang memiliki pemandangan yang indah, kami sedang mengupayakan untuk membangun jalan semen agar dari satu titik ke titik yang lain semakin nyaman dilewati." Lanjut Yoyakim.



Tujuan dari kegiatan ini seperti yang dijelaskan oleh Clarensius Cafricho selaku ketua tim adalah untuk mengumpulkan data-data sejarah terutama cerita-cerita tua yang berkaitan dengan Perang atau Tragedi Lamoanak sehingga adanya exodus warga lamoanak ke daera lain seperti Sungai Ambawang dan lain sebagainya. "Yang kita tahu selama ini adalah cerita rakyat bukan fakta sejarah maka diperlukan sebuah penelitian yang komprehensif yang melibatkan keturunan-keturunan para pelaku sejarah tersebut. kegiatan ini memang masih akan melalui tahapan-tahapan yang panjang, namun saya percaya apa yang sudah direncanakan oleh rekan-rekan IPDKR bisa terwujud." Jelas Richo.




Hal senada juga diungkapkan oleh Teofelus Boni, Ketua Umum IPDKR yang juga ikut dalam tim ekpedisi tersebut, Ia menekankan agar sinergi yang telah dibangun dapat dimanfaatkan dengan baik, "Saya mengapresiasi semua usaha dan kerja keras dari semua Tim, kegiatan ini tentunya akan berlanjut sampai tuntas, dan apa yang diperoleh saat ini digabungkan dan ditelisik bersama, tentunya sesuai dengan kaidah-kaidah yang semestinya, kami sangat berterima kasih kepada para narasumber atas segala informasi yang telah diberikan kepada kami." ujar Boni. Ia juga menanggapi apa yang menjadi harapan warga desa lamoanak untuk membangun tempat wisata didesanya dapat segera terwujud dan didukung pula oleh Pemerintas Daerah setempat.

Pengurus DPC IPDKR Kec. Sungai Ambawang dan Kec. Kuala Mandor B resmi dilantik.

Dolores Benno, S.Pd dan Natalius, S.Pd resmi memimpin DPC IPDKR (Ikatan Pemuda Dayak Kubu Raya) masing-masing di wilayah Kecamatan Sungai Ambawang dan Kecamatan Kuala Mandor B masa bakti 2017 - 2020.


Pada tanggal 21 September 2017 yang lalu Ketua Umum IPDKR Teofelus Boni mengukuhkan kepengurusan di dua kecamatan ini yang dilaksanakan di Gedung Serba Guna Gereja Katolik Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.

Dalam sambutannya Teofelus Boni berpesan agar kepengurusan ini mampu membangun kerja sama dengan berbagai pihak baik internal maupun eksternal untuk mewujudkan IPDKR yang kuat, mandiri, maju dan berbudaya. "Semangat Bakomo', Bapakat dan Batulukng hendaknya selalu diingat dan dilaksanakan, pantang kita kerja sendiri-sendiri." tegasnya.

Sebelumnya SK Pelantikan dibacakan oleh Bendahara Umum DPP IPDKR, Monica Anggraini Pane, S.Pd, kegiatan pelantikan bersama DPC IPDKR ini juga dihadiri oleh Camat Sungai Ambawang, Sekretaris DAD Kab. Kubu Raya yang juga merangkap Ketua DAD Sui. Ambawang, Kepala Desa Lingga dan Utusan dari Kapolsek.



Selamat bertugas kepada seluruh Pengurus DPC IPDKR Kec, Sui. Ambawang dan Kec. Kuala Mandor B.
Sukses selalu, SALAM BABABA!